Semua Terbayar Saat Memasang Sabuk Pengaman di Pesawat Terbang

Pendidikan Dec 16, 2015 No Comments

Filemon Yusuf adalah salah satu mahasiswa IPB Program Sarjana Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian (Faperta) Institut Pertanian Bogor (IPB) yang beruntung bisa merasakan kuliah selama empat bulan di Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT) di Jepang. Melalui program ASEAN International Mobility for Student (AIMS), Filemon merasa mendapat banyak ilmu pengetahuan yang baru. Dalam program Student Research in Specific Field, ia melakukan percobaan mengintroduksi gen karotenoid ke daun tembakau dengan menggunakan bakteri Agrobacterium. Menurutnya, ilmu ini tidak akan ia dapatkan dalam pendidikan sarjana.

Menarik bukan? Lalu bagaimana ceritanya Filemon berhasil menjadi salah satu mahasiswa yang beruntung ikut dalam student exchange ini. Berikut petikan wawancaranya :

Awal mula bisa ikut student exchange dan langkah-langkah yang harus ditempuh seperti apa?Jujur, saya tidak pernah menyangka akan dapat mengikuti program pertukaran pelajar. Waktu Ujian Akhir Semester (UAS), ada berita dari group angkatan bahwa ada pembukaan program pertukaran pelajar yaitu Program ASEAN International Mobility for Students (AIMS). Syarat-syarat yang diperlukan cukup mudah yaitu hanya menyerahkan transkrip nilai dengan IPK>3, sertifikat TOEFL diatas 500, CV, dan mendaftarkan diri ke komisi pendidikan departemen.

Terdapat tiga pilihan negara yang diajukan pada waktu itu, yaitu Jepang, Malaysia, dan Thailand. Saya pun memilih Negara Jepang. Sistem penyeleksian dilakukan oleh perguruan tinggi yang akan  menjadi tujuan pertukaran. Sekira dua bulan kemudian hasil seleksi keluar dan saya diterima di Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT).

Apa motivasi yang membuat Anda mengikuti kegiatan ini?

Motivasi mengikuti program ini adalah saya ingin mengetahui sistem pertanian di Jepang. Kita tahu bahwa Jepang merupakan negara dengan bidang teknologi yang sangat maju. Saya ingin mengetahui pengaplikasian teknologi tersebut di bidang pertanian, mulai dari alat dan mesin pertanian yang digunakan, sistem budidaya yang diterapkan sampai dengan penjualan produk pertanian di Jepang.

Selain itu saya sebagai mahasiswa IPB juga tertarik untuk melihat budaya Jepang secara langsung, memiliki teman yang berbeda kewarganegaraan, serta memperluas koneksi.

Kegiatan apa saja yang dilakukan di TUAT?

Kegiatan AIMS ini berlangsung selama empat bulan. Selama program tersebut, banyak aktivitas yang saya lakukan. Awal kedatangan di TUAT, saya dan mahasiswa AIMS lainnya dihadapkan dengan sistem buddies, dimana setiap mahasiswa AIMS TUAT akan didampingi oleh beberapa mahasiswa TUAT. Fungsi dari teman-teman TUAT ini adalah membantu kami dalam memenuhi kebutuhan mendasar selama kami di Jepang, seperti sarana komunikasi handphone dan simcard yang tepat, mencari makanan-makanan halal, memberitahukan tempat-tempat yang menjual barang atau makanan yang murah, dan lain-lain. Selain itu kami juga melakukan beberapa aktivitas bersama dengan buddies seperti cooking class dimana mahasiswa AIMS dan para buddies memasak masakan khas dari masing-masing negara (Jepang, Indonesia, Malaysia, dan Thailand) untuk makan malam, mengadakan olahraga bersama di gymnasium, jalan-jalan bersama ke beberapa tempat wisata, dan lain-lain.

TUAT sendiri mengadakan beberapa aktivitas seperti fieldtrip yang dilaksanakan oleh International Environment and Agricultural Science (IEAS) Department ke Danau Okutama dan bendungan Tamagawa. Kami belajar bagaimana sistem pengaturan air yang dilakukan di Tokyo untuk air bersih dan air untuk pertanian. Selain itu IEAS juga melakukan fieldtrip ke Takomino Sato dimana kami mampu melihat desa pariwisata dan suatu project rehabilitasi hutan yang terintegrasi oleh warga desa, LSM (Nature Conservation Society of Japan), serta pemerintah. Selain itu terdapat pula acara festival kampus yang diadakan pada bulan November akhir. Mahasiswa AIMS mendapat kesempatan untuk mengisi satu booth untuk mempromosikan program tersebut. Dalam festival tersebut kami juga mendapat kesempatan untuk memperkenalkan budaya Indonesia bersama dengan PPI Fuchu-Koganei (Persatuan Pelajar Indonesia yang berlokasi di Fuchu dan Koganei yaitu tempat TUAT berada). Kami mengenakan pakaian adat, menampilkan orkestra angklung, menjual masakan Indonesia, dan memperbolehkan setiap pengunjung untuk memakai pakaian adat Indonesia dan mengambil foto.

Di akhir program, seluruh mahasiswa AIMS dikumpulkan di Ibaraki University untuk acara penutupan dan presentasi setiap mahasiswa mengenai apa yang telah dipelajari sepanjang program AIMS.

Manfaat yang dirasakan dengan mengikuti kegiatan student exchange ini?

Manfaat yang saya rasakan sangat besar. Saya banyak belajar mengenai sistem pertanian di Jepang dan saya juga dapat mengetahui budaya Jepang. Saya juga mendapat banyak teman yang berasal dari Jepang, Thailand, Malaysia, Vietnam, Kanada, dan negara lain dan juga mendapat kesempatan untuk bertemu dosen-dosen dari berbagai perguruan tinggi.

Bagi calon mahasiswa IPB, peluang-peluang seperti apa yang bisa mereka dapatkan agar bisa mengikuti jejak Anda?

Kepada adik-adik yang ingin masuk atau baru masuk IPB, peluang yang ada untuk bisa mengikuti program pertukaran pelajar sangatlah besar. Kerjasama dan kolaborasi yang dilakukan IPB dengan perguruan tinggi terkemuka di seluruh dunia, baik negara-negara di Asia dan Eropa, sangatlah banyak. Setiap tahun dibuka pendaftaran untuk mengikuti program mobilitas. Asalkan mau berusaha mencari atau sering update tentang kegiatan mobilitas pasti dapat mengikuti salah satu program mobilitas. Selain itu hal penting yang perlu diperhatikan adalah persyaratan yang harus dipenuhi, meskipun terkadang sangat menyulitkan dan membingungkan tapi semuanya akan terbayar ketika kalian memasang sabuk pengaman di pesawat terbang. (zul)

Hudzaifah Djiddy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *